oleh

Sistem E – Voting Lebih Transparan, Bersih dan Bisa Dipertanggungjawabkan

Kabarnotariat.id, Yogyakarta – Ditemui disela RP3YD (Pra Kongres XIII) & Upgrading Ikatan Notaris Indonesia (I.N.I  Kiagus Muhammad Syukri, SH., mengatakan bahwa sistem One Man one vote yang sudah berjalan (satu Notaris satu suara sangat bagus. “Asalkan penyelenggaraanya dilaksanakan secara bersih, transparan, bisa lebih konstitusional dan bisa dipertanggungjawabkan serta bisa membawa perubahan organisasi I.N.I ke arah yang lebih baik,” ujar Ketua Pengurus Wilayah (Pengwil) I.N.I Bengkulu, mengawali bincang-bincangnya Sabtu, (2018).

Menyikapi adanya pemilihan menggunakan sistem E-voting, Kiagus mengatakan segala sesuatu itu pasti ada kelebihan dan ada kekurangan. Terkait Klausula tentang pemungutan suara elektronik (e-voting), ujarnya, dalam proses pemilihan termasuk salah satu isu yang mendapat sorotan. “Terlebih, penggunaan teknologi itu diyakini dapat membuat penyelenggaraan pemilu menjadi efektif dan efisien. Namun apabila terjadi kendala atau kesalahan, semua kembali lagi kepada Tim IT dan juga kembali kepada “Nawaitu” daripada penyelenggara. Penggunaan E – Voting bagus, tidak semua anggota harus ikut ke lokasi Kongres, mengingat bisa memperhemat waktu biaya dan lainnya,” ucapnya.

Menurutnya, apabila TIM IT nya tidak bersih dan jujur maka bisa saja dimainkan. Bahkan, ia pernah beberapa kali berbicara dengan rekan-rekannya bahwa E – Voting malah tidak efisien, tetapi jika memang bersih itu sangat efisien karena semua bisa memilih.

Berkaca dari kejadian Kongres Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (IPPAT) Ke – VII (Tujuh) di Makassar beberapa waktu lalu, Kiagus menginginkan agar tidak terjadi lagi kekisruhan pada saat pelaksanaan Kongres I.N.I mendatang. “Karena adanya kecurangan dan kurang matangnya perencanaan atau kesiapan, akibatnya banyak peserta yang tergeletak pingsan, dan tentunya kesiapan itu perlu di evaluasi. Dari kejadian tersebut, mudah-mudahan pada penyelenggaraan di Kongres I.N.I nanti sudah jauh lebih siap dengan “Nawaitu” yang jauh lebih baik sehingga bukan hanya terlaksana tetapi juga bersih dan transparan,” pintanya.

Baca:  MP3 Sarana Kepentingan PPAT

Ditanyai soal larangan apa yang tidak diperbolehkan oleh Calon Ketua Umum (Caketum) PP I.N.I pada saat berkampanye, apa pendapat anda?

Kiagus menjawab, sebetulnya dari dulu semua sudah ada yang namanya aturan main saat berkampanye, akan tetapi pintar-pintar si Caketum itu sendiri. “Tidak boleh berkampanye bisa saja masuk melalui IPPAT, ditambah saat ini ada larangan tidak boleh melakukan money politik meski tidak bisa dibuktikan secara real. Jadi, kecurangan-kecurangan itu tetap pasti ada dan mereka sudah mempunyai cara-cara yang memang terbilang piawai dari tim masing-masing untuk melanggar aturan tersebut, walaupun dilanggar tapi tidak terbukti bahwa dia bersalah melakukan pelanggaran baik itu dari Tim Pemilih (Timlih) maupun Tim Verifikasi (Timver). Semuanya memang orang-orang yang sudah ditempatkan pada porsinya masing-masing,” terangnya, kepada Kabarnotariat.id

Lebih jauh Kiagus menambahkan pesan moral, bahwa semua untuk kepentingan anggota dan bukan untuk kepentingan kelompok. “Kita bisa melihat sekarang ini, masih adanya kepentingan-kepentingan kelompok walaupun memang di kepemimpinan Ketum saat ini sudah terbilang cukup bagus untuk program-programnya, akan tetapi hanya sebagian saja karena ibarat di kerajaan ataupun di pemerintahan dan organisasi, pasti ada orang-orang disekitar yang mempunyai tujuan untuk kepentingan pribadi sendiri, sehingga itu bisa mengotori kinerja yang sudah bagus,” ucapnya.

Diakuinya, penyelenggaraan Pra kongres I.N.I kali ini memang sudah bagus, namun lebih banyak kepada antara yang mempunyai kepentingan dan tidak mempunyai kepentingan. Seperti ada yang kebetulan memiliki anak kuliah di Yogya, sehingga mereka ikut menghadiri sembari menengok.

“Yogya adalah kota yang sangat dirindukan, disini saya merasa nyaman, guyub ,kekeluargaan dan terasa seperti berada dirumah sendiri. Intinya, kami berharap partisipasi pemilih jauh lebih besar kali ini, sehingga lebih terasa komptetitif pesta demokrasinya dan hasilnya lebih berkualitas, serta dimana pun Kongres dilaksanakan tergantung kembali lagi dari “Nawaitu” supaya tidak terjadi carut-marut seperti di kongres IPPAT Makassar,” imbuh Kiagus.

Baca:  Gobar Dalam Rangka HANTARU Dan HUT IPPAT

(Irwan)

Komentar