oleh

Meski Corona Tengah Mewabah, Pelayanan Kepada Masyarakat Harus Tetap Berjalan

Magelang, Kabarnotariat.id – Tim reaksi cepat penanganan sebaran pandemi COVID-19 akan berjaga di 135 pintu gerbang masuk Indonesia guna menangkal penularan lebih luas virus corona jenis baru tersebut.
Wabah virus corona memunculkan kekhawatiran yang tinggi bagi masyarakat dunia.

Baru-baru ini World Health Organization (WHO) menyurati Presiden Joko Widodo untuk meningkatkan kewaspadaan Indonesia dalam menghadapi pandemi virus corona jenis baru COVID-19 dengan meningkatkan status sebagai darurat nasional.

Salah satu upaya yang dilakukan Presiden Jokowi adalah menerbitkan Keppres No. 7 Tahun 2020 tentang Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19). Dalam Keppres itu, presiden menugaskan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Monardo, sebagai Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 guna mengatasi penyebaran virus penyebab penyakit COVID-19.

Berdasarkan Pasal 3 Keppres tersebut, Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 memiliki lima tujuan. Pertama, meningkatkan ketahanan nasional di bidang kesehatan. Kedua, mempercepat penanganan virus corona melalui sinergi antarkementerian/lembaga dan pemerintah daerah.

Ketiga, meningkatkan antisipasi perkembangan eskalasi penyebaran COVID-19. Keempat, meningkatkan sinergi pengambilan kebijakan operasional. Kelima, meningkatkan kesiapan dan kemampuan dalam mencegah, mendeteksi, dan merespons terhadap COVId-19.

Tidak halnya dengan hubungan Wabah Pandemi Covid 19 terhadap dunia Kenotariatan dan Ke-PPAT-an. Seperti dikatakan Notaris-PPAT yang juga Ketua Pengurus Daerah Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (Pengda IPPAT) Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, R. Giardi Suharjanto,SH,MH, meski wabah corona kini telah melanda di seluruh penjuru dunia, utamanya Indonesia, dirinya berharap pelayanan kepada masyarakat di bidang jasa Notaris-PPAT jangan sampai stagnan/ mandeg, tetapi harus berjalan sesuai dengan Surat Himbauan dari Pengurus Pusat Ikatan Notaris Indonesia (PP INI) maupun Pemerintah.

Hal itu ditegaskan oleh R. Giardi Suharjanto saat ditemui Kabarnotariat.id di kantornya belum lama ini. Menurut pria yang akrab dengan panggilan Giardi, memang keberadaan virus Corona yang tak nampak kasat mata itu terus terang telah melumpuhkan segala bidang sendi kehidupan di negeri ini.

Baca:  "Pasal 55 KUHP Jerat PPAT Sampai Pidana TIPIKOR"

“Yang terasa adalah kita kalangan Notaris-PPAT, kemudian yang saya tahu akibat bahayanya Virus Covid 19 ini banyak dan ada beberapa Kantor rekan Notaris-PPAT yang membuka dan menutup kantornya, ada pula yang pola sistem kerjanya lebih mundur buka kantornya dengan sistem karyawan/staf digilir/sistem sift,” ungkap Giardi.

Selain itu, kata Giardi, dampaknya besar sekali baginya, terkadang dalam satu hari bila sikon normal, bisa menerima 6 sampai 7 tamu/ klien, maka selama sikon Covid bisa jadi hanya terima 1 klien, bahkan ada yang praktis tidak terima klien sama sekali. Jelas sangat berpengaruh terhadap pundi-pundi pendapatan tentunya.

Giardi menambahkan, terkadang juga ada pengaruhnya pula terhadap Akta Otentik yang kita bikin. “Padahal sesuai dengan UUJN, kalau kita mau membacakan Akta di depan penghadap, secara otomatis harus dibacakan dihadapan para penghadap, tidak boleh secara virtual atau via tele conference atau via aplikasi Zoom. Untuk penandatangan juga harus dilakukan secara fisik oleh para penghadap di hadapan Notaris-PPAT, namun demikian mau dibilang apa lha wong sikonnya masih begini, maka hanya satu kata, kita harus ‘Sabar’ sambil berikhtiar/ berusaha dan berdoa bahwa rezeki itu sudah di atur oleh Tuhan YME. Ingat, kerja keras boleh tapi jangan terlampaui ngoyo, berambisi dalam mencari uang boleh, tapi jangan ambisius,” paparnya.

Masih kata Giardi, sedangkan kaitan dengan pelayanan di Kantor ATR/BPN, Giardi yang juga pernah menjadi Lawyer/Advokat ini mengatakan selama dalam sikon Covid -19 Kantor ATR/BPN memberlakukan sistem pelayanan secara Online. Tujuannya guna melakukan Social Distancing maupun Physical Distancing dalam meminimalisir sebaran Covid -19 di beberapa instansi terkait termasuk BPN.

Giardi kembali menambahkan, dirinya sangat setuju dengan pola SOP dari Kementerian ATR/BPN selama masa Pandemi Covid 19 ini. Namun demikian Giardi berharap tetap menomorsatukan pelayanan dan memproses semua berkas-berkas kaitan dengan rekan-rekan PPAT.

Baca:  Menjadi Caleg, Bukan Mengejar "Finance"

“Saya sadar terkadang namanya Online Sistem ada kendala pada perangkat IT/jaringan, namun disisi lain SDM juga harus berkualitas kinerjanya, jangan sebaliknya mumpung sikonnya lagi Covid, pekerjaan malah dibikin lambat dan tak kunjung kelar. Semoga ini menjadi muhasabah dan usaha kita bersama ada sebuah makna dan nilai hidup yang lebih baik atas bencana Ujian Virus Covid 19 tersebut,” tukasnya.

JMN

Editor: IRN

Komentar