oleh

Seni Arsitektur Budaya Kantor Notaris Gresik

Kabarnotariat.id, Jatim. Tidak banyak arsitektur kantor Notaris yang unik dan memiliki nuansa kearifan budaya lokal Indonesia di Gresik ini. Salah satunya ada pada kantor Notaris/PPAT Agil Suwarto, ST., SH., MKn., yang memiliki kontruksi bangunan dengan perpaduan seni arsitektur Jawa dan Bali.

“kantor ini saya desain sendiri untuk mengingatkan budaya asal usul saya sebagai orang Jawa Tengah dan Istri sebagai orang Bali,” Ungkap Agil biasa disapa. Dimana kantor tersebut terdiri dari dua lantai, yang sebagian paras atau bebatuannya didatangkan langsung dari Bali dan Ukir-ukiran kayu jatinya didatangkan langsung dari Jawa Tengah.

Gerbang Gapura Candi Kantor

Sebelum memasuki kantor,  bertengger dua gerbang berbentuk gapura candi, yang disamping kanan kirinya ada dua patung laki-laki dan perempuan dengan mengenakan pakaian adat Bali. Seolah-olah patung tersebut  menjaga dan menyapa setiap tamu yang akan memasuki kantor.

Pintu Keluar Masuk Kantor

Selanjutnya pintu masuk yang terbuat dari Kayu jati dengan ukiran khas Jawa Tengah, menjadi awal terbukanya suasana kesibukan para staf yang sedang bekerja di dalam kantor tersebut. Sedangkan dinding-dinding ruangannya yang dihiasi dengan pigura hias ornamen Bali, menjaga kesejukan suasana didalamnya.

Kursi Singgasana saput poleng

Ruang kantor pribadi Notaris Agil, yang juga menjadi tempat biasa dibacakannya akta, ada kursi singgasananya yang terbungkus kain hitam putih kotak-kotak. Kain itu biasa disebut juga sebagai kain poleng atau saput poleng.  Istilah Saput sendiri artinya kain yang membalut, sedangkan poleng adalah istilah untuk warna hitam putih yang berseling merupakan lambang Rwa Bhineda, yaitu keseimbangan alam.

Kabarnotariat juga diberi kesempatan untuk melihat Joglo yang berada di lantai 2 (dua) atas bangunan. Ruang tersebut menjadi ruang sebaguna dengan 4 (empat) pilar yang menopang kokohnya atap bangunan tersebut.

Baca:  Menuju Pengda IPPAT Kab. Mojokerto Yang Berkualitas
Saka Guru Atap Joglo

“Dalam bahasa jawa 4 pilar tersebut disebut juga saka guru”, Terang Agil. Saka guru merupakan elemen paling mendasar dalam arsitektur jawa, karena menopang seluruh atap bangunan. Dan Konstruksi saka guru digunakan pada bangunan dengan atap tipe joglo. Masing-masing dari empat tiang utama itu berada diatas umpak, batu trapesium tiga dimensi yang berfungsi sebagai peralihan antara tiang dan pondasi.

DN

Komentar